Social Icons

Pages

Showing posts with label Cerpen Karyaku. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Karyaku. Show all posts

Wednesday, December 5, 2012

Pencuri Cerita Fiksi dan Boneka Kayu Si Emak

PROLOG
Aku kembali ke kampung kelahiranku. Semua telah berubah. Aku tertegun melihat deretan kios sembakau, buah-buahan, dan toko buku. Di jalan yang kini sudah beraspal, tak lagi seperti dulu yang penuh kerikil, kini melintas motor dengan cepat.
O, pohon beringin berbatang raksasa itu ternyata masih ada dan berdiri kokoh. Di bawah pohon itulah dua belas tahun silam terdapat sebuah warung kopi. Warung kopi yang terbakar habis tanpa sisa. Sepanjang ingatanku, pemandangan sekilas seketika membawaku kembali ke waktu yang berjalan mundur, melewati kenangan di masa kecilku.
*

Aku melihat dinding rumahku dipenuhi ide-ide emak. Emak sangat pandai berimajinasi, mengarang cerita fiksi. Aku suka membaca cerita fiksi karya emak. Emak berusaha menulis cerita-cerita fiksi yang mampu mengubah apapun. Apabila cerita fiksi emak tak mampu mengubah apapun jadi lebih baik, apalah arti menulis bagi emak—tak ada. Emakku adalah seorang penulis.
Sementara emak sedang mengarang cerita fiksi, aku sibuk melipati koran bekas dengan aneka bentuk origami. Lalu aku membalik halaman koran. Tiba-tiba di koran itu terpampang judul besar seperti judul cerita fiksi karya emak, tapi lain penulis.
“Emak,” teriakku. Emak berhenti mengarang, lalu menoleh padaku yang sedang tengkurap di lantai. “Ini kok mirip cerita fiksi Emak yang hilang.”
“Mana?”
Kemudian aku segera menghampiri emak. “Ini Mak. Minggu lalu aku juga lihat cerita fiksi Emak ada di koran ini, yang lain judul.”
Emak terkejut melihat karyanya terpampang di koran dengan nama penulis yang berbeda. Mungkinkah hilangnya cerita-cerita fiksi emak karena dicuri orang?
“Memang benar adalah cerita fiksi karya Emak yang pernah hilang.”
“Aku tak rela, Mak. Harusnya Emak yang terima honor, tapi malah penulis itu.”
Emak tersenyum. “Tidak usah, Safana. Biarlah Allah yang membalas. Tak selamanya kejahatan akan menang. Lama-lama kejahatannya pun akan terungkap.”
Lalu aku memeluk Emak dari belakang dan mencium kepala Emak yang berbalut kerudung. “Emak. Aku sayang Emak. Aku akan minta pada Allah agar honor yang sudah didapatnya dicuri oleh pencuri yang lain.”
Aku kembali melanjutkan merangkai origami. Sempat aku melihat emak meneteskan air mata, tapi lekas dihapusnya. Aku benci pada pencuri cerita fiksi itu. Ia telah membuat emakku menangis.
“Safana, jendelanya itu dibuka biar cahaya matahari bisa masuk!”
“Iya, Mak.”
Aku pun membuka jendela lebar-lebar, menyibak korden. Angin semilir masuk memenuhi sekeliling rumahku. Di rumah kayu inilah aku tinggal bersama emak. Tiada seorang bapak. Kata emak, bapakku sudah lama merantau ke tanah Sumatera, tapi mengapa tak kunjung kembali. Tak pun sebuah surat kuterima dari bapak. Tak pun sepeser uang emak terima dari bapak. Aku merindukanmu, bapak. Jika kurindu, aku hanya bisa memandangi foto hitam putih bapak, foto satu-satunya.
Kini emaklah yang jadi tulang punggung keluarga. Seorang emak yang tangguh. Seorang emak yang yang pantang kenal lelah.
Kemudian pandangan mataku mendarat pada seorang anak perempuan yang sedang bersembunyi di halaman rumahku, di pagar tanaman yang tersusun dari berbagai jenis bunga. Seperti emak, aku berselera menata tanaman dan memagarinya dengan pagar hijau, sehingga rumahku tampak asri. Aku tak tahu siapa anak itu. Ia sebaya denganku. Pakaiannya berdaster kumal. Pipinya bercampur debu. Aku mengamatinya dari balik jendela. Terik matahari mengomporinya. Aku pun keluar rumah seraya memeluk boneka kayu pemberian emak. Aku menghampiri anak itu.
“Kamu siapa?”
Ia menoleh padaku. Sejenak ia memandangku, tak mengatakan apapun. Tapi akhirnya ia berbicara sepatah kata. “Aku...”
Namun sebelum ia melanjutkan ucapannya, seseorang berteriak-teriak memanggilnya. “Keke. Sembunyi di mana kamu? Cepat keluar!” Teriakan itu terdengar semakin dekat. Anak itu semakin ketakutan.
“Tolong saya! Saya takut,” ia memohon padaku.
“Apa yang terjadi?”
“Keke,” bentak seorang lelaki yang sedang berdiri di hadapan kami.
“Ba... Bapak...”
Lelaki itu menghampiri anak itu, lalu menarik paksa lengan tangan anak itu. “Ayo pulang! Jangan pernah lagi menginginkan yang aneh-aneh. Buat apa kamu memikirkan tentang cita-cita. Kamu tak punya cita-cita. Lagipula semua anak di kampung ini tak ada yang memikirkan cita-citanya. Tak ada cita-cita, tak ada sekolah.”
Kemudian anak itu, Keke berusaha melepas tangan Bapaknya. Dan ia berani meladeni Bapaknya. “Kata siapa aku tidak punya cita-cita. Aku punya, Pak. Dan kata siapa anak seorang penari harus jadi penari juga.”
Mendengar itu, Bapaknya semakin marah. “Berani sekali kamu melawan Bapakmu. Ingat Keke, kamu itu cuma anak seorang penari. Anak orang miskin. Dan kamu terlahir sebagai perempuan, bukan laki-laki. Anak perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Kalau kamu berani membantah, akan kunikahkan saja kamu dengan Gus Djafar. Orang terkaya di kampung sebelah.”
“Siapa bilang anak perempuan tak boleh sekolah tinggi-tinggi. Bapak jangan asal ngomong! Pemikiran Bapak sanagt pendek,” sahut Emak yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu. “Anak ini berhak menggapai cita-citanya.”
“Jangan ikut campur urusanku! Ini anakku, bukan anakmu!” tegas lelaki itu pada Emak. Lalu ia menarik paksa Keke untuk segera pulang. “Ayo pulang!”
Aku melihat Keke menangis dan sangat ketakutan. Dari jauh, sempat ia menoleh padaku. Pelukanku pada boneka kayu semakin erat hingga Keke dan bapaknya menghilang di kelokan jalan.
***

Esok harinya, di pagi, aku dan emak beranjak menuju sekolah. Sekolah gubuk buatan emak. Selain jadi penulis, emakku juga seorang guru. Guru yang mendapatkan bayaran sukarela dari murid-muridnya. Salah satu dari muridnya adalah aku. Harapan yang paling sering kudengar dari mulut emak adalah keinginanya membangun kampung ini menjadi lebih baik, jauh lebih baik dari ibukota provinsi. Karena kampung ini adalah kampung terpinggir, pendidikan rendah, tak ada sekolah lain di kampung ini kecuali sekolah yang emak bangun. Emak menamai sekolah itu: SEKOLAH HARAPAN.
Aku berjalan di sepanjang jalan seraya menggandeng tangan emak. Berjalan di pinggiran rel kereta. Sementara tangan kiriku tak lepas dari memeluk boneka kayu. Aku memandang sekeliling. Jauh di sana, di pegunungan itu tak ada sawah, jadi para orangtua mempertahankan hidup dengan berburu binatang dan mencari ikan di sungai. Sehingga banyak warga yang memilih mengangkut nasib ke tanah rantau. Kampung ini terpencil. Kalau mau membeli sayuran atau makanan pokok seperti beras harus berjalan berkilo-kilo jauhnya menuju pasar. Tapi warga di sini cukup senang meski makan ubi.
Kuburan pun jadi ladang pemulung. Segerombol pemulung cilik dengan pakaian kumal berkeliaran di sekitar kuburan yang penuh oleh serakan bunga-bunga kamboja. Ayam-ayam liar mengorek tanah kuburan.
Lalu kami melewati rumah Mbah Bidjah yang bersebelahan dengan kuburan. Matanya sipit. Sanggul bulat kecil menempel di atas kepalanya. Mbah Bidjah juga adalah satu-satunya murid paling tua diantara murid lain. Usianya berkepala enam. Beliau ingin bisa membaca agar tak salah mengeja huruf. Dulu, ia pernah salah mengeja tulisan dokter. Akhirnya anak sulungnya meninggal karena salah obat.
“Mbah Bidjah,” sapa Emak dengan tersenyum.
Mbah Bidjah yang saat itu berada di halaman rumahnya, menghadap tampah besar berisi butiran-butiran beras segera membereskan tampahnya, lalu ikut serta beranjak ke sekolah dengan semangat.
Di sekolah, emak mengajari murid-muridnya tentang apapun seperti halnya pelajaran di sekolah pada umumnya. Juga belajar lewat semesta. Dan tentang beternak, berdagang, dan bertani. Sekolah ini dibangun dari gubuk bambu. Sekolah ini ada empat belas murid.
Lama kami belajar, tak dirasa ada seorang anak perempuan mengintip di dekat jendela. Sesekali aku menengok ke belakang, di luar jendela. Mataku mengawas padanya. O, anak itu... Keke. Emak pun mengalihkan perhatian pada Keke. Wajah emak sumringah bak mekarnya bunga mawar. Emak tersenyum semanis legit pada Keke. Sehingga Keke memberanikan diri untuk masuk dan ikut belajar bersama kami. Sementara emak membiarkan Keke duduk di bangku kosong di belakang.
Kali ini emak menceritakan cerita fiksi yang baru dibuatnya semalam. Kami senang dengan cerita fiksinya. Tentang seorang anak yang menginginkan boneka sama persis seperti dalam mimpinya. Tentang seorang pemulung kecil yang mencari sebuah surat kaleng berisi wasiat mamaknya hingga bersampai ke tanah rantau. Tentang bunga kembar yang tumbuh di tumpukan sampah.
***

Langit senja terpancar indah penuh mega di arah barat. Sesekali angin berkesiur, tak urung merenggut daun-daun kering hingga jatuh melayang di pelataran tanah. Debu pun bergulung di udara. Aku memandangi sepadang hijau yang tumbuh di seberang rel kereta di depan warung kopi. Jalan depan warung ini tak beraspal. Penuh bebatuan. Ketika senja menjelang, emak selalu berjualan kopi dan bubur ikan. Aku selalu menemaninya hingga larut malam.
Dari ambang pintu, aku memperhatikan Keke yang sedang mengorek-ngorek tanah, dan lebih tepatnya menggambari sesuatu dengan ranting pohon yang dipungutnya di tong sampah. Ia berjongkok di bawah pohon teduh, masih dengan diamnya. Ternyata ia jauh lebih pendiam seperti yang kukira. Matanya selalu tampak sayu. Bahkan tak pernah kulihat ia mengumbar senyum.
Kemudian aku menghampiri emak yang sedang mengelap mangkuk. “Mak kasihan Keke. Dia pengen banget punya boneka. Tapi Bapaknya tak pernah membelikannya. Katanya, ia baru akan dibelikan boneka apabila Keke mampu menarik perhatian banyak penonton dengan tariannya. Sedangkan Keke tak pernah suka menari. Boleh nggak Mak aku kasih boneka kayu Emak ke Keke?”
Emak pun tersenyum. “Tentu saja boleh. Sebagai gantinya Emak akan membelikanmu boneka barbie di hari ulang tahunmu yang ke delapan.”
“Beneran, Mak?”
“Iya. Panggil Keke kemari! Dia kan belum makan dari tadi siang. Emak sudah menyiapkan bubur ikan untuknya.”
Dengan girang, aku berlari menghampiri Keke seraya memeluk boneka kayu. Lalu ia mendongak ke arahku. “Keke, aku punya sesuatu untukmu.” Aku memperlihatkan boneka kayu yang kubawa pada Keke. “Ini adalah boneka kayu Emak. Kata Emak, boneka kayu ini boleh diberikan padamu.”
Sejenak ia memandangi boneka kayu itu, tapi akhirnya ia mau menerima pemberianku ini.
“Terima kasih,” ucapnya seraya tersenyum kecil.
“Safana,” panggil Emak. “Antarkan pesanan bubur ikan ini ke rumah Mbah Bidjah!”
“Iya, Mak.” “Tadi Emak juga memanggilmu. Emak sudah menghidangkan bubur ikan untukmu. Bubur ikan buatan Emak enak lho. Apalagi kalau ditaburi kerupuk rumput laut, malah tambah nikmat. Ayo masuk!” ajakku.
Sementara aku sedang mengantar pesanan ke rumah Mbah Bidjah, emak menyendokkan bubur ikan ke mangkuk Keke. Mereka duduk berhadapan. Keke melahap bubur ikan itu. Semua orang di kampung ini tahu kalau bubur ikan buatan emak yang paling enak, sehingga mencium aromanya saja sudah langsung menitikkan air liur. Semula emak hanya berjualan kopi susu, sehingga warung ini dinamai warung kopi. Tapi lama-lama, melihat warga yang lebih sering makan ubi, emak memutuskan untuk menjual bubur ikan.
“Mak, terima kasih untuk boneka kayu ini dan terima kasih karena tadi Emak udah ngebolehin Keke ikut belajar!”
“Iya, Keke. Lain waktu kamu boleh kok datang lagi ke sekolah. Tak usah permasalahkan bayarnya.”
Wajah Keke langsung berubah jadi sumringah. “Sungguh?”
Emak menganggukkan kepala.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar warung. “Keke... Keke...”
“Itu Bapak. Mak, Keke takut.” Keke bersembunyi di balik daster emak.
“Ternyata kamu di sini, Keke. Sudah berapa kali Bapak bilang, jangan pernah lagi menemui wanita ini. Dia cuma bisa merusak pikiranmu.”
“Tapi Emak orang baik, Pak. Emak mau menampung Keke untuk sekolah di Sekolah Harapan.”
“Omong kosong dengan sekolah. Sekolah tak bisa menghasilkan uang. Cuma buang waktu. Yang penting itu kerja. Ayo pulang!” Bapaknya menarik paksa Keke.
“Keke tidak mau.” Air mata Keke mulai jatuh. Menangis. “Mak, tolong Keke! Keke tidak mau pulang! Keke takut dipukul lagi oleh Bapak.”
Lalu emak berusaha mempertahankan Keke, tapi ternyata tenaga lelaki jauh lebih kuat dari perempuan. Bapak Keke mendorong emak hingga terjatuh dan kepalanya berdarah karena terbentur penyangga meja. Tanpa diduga, tangan emak mengenai dan menjatuhkan lentera yang terpasang rendah di dinding. Sekejap api merambah sekeliling. Membakar apa yang ada di dalam warung. Api itu semakin lama semakin membesar. Aku yang saat itu sedang bersembunyi di celah dinding langsung menjauh.
“Emaaak...” Keke buru-buru menghampiri Emak.
“Keke, lekas keluar! Selamatkan dirimu!” tegas Emak yang tergorek lemah.
Sekilas Keke menatap ke arah bapaknya dengan tatapan yang tajam. “Bapak jahat!” Dengan segera Keke keluar dari warung yang sudah dilahap api. Namun, bapaknya tak henti mengejar Keke.
Aku berusaha menyelamatkan emak, tapi warga menahan langkahku. Aku menangis semakin keras. Lalu aku meneriaki lelaki itu, bapak Keke seraya menudingkan jari telunjukku ke arahnya. “Pembunuh! Dia berusaha membunuh Emakku. Dia telah membakar warung kopi Emak,” teriakku keras di hadapan warga yang berbondong-bondong menyerbu pelataran warung kopi.
Mendengar teriakanku, warga langsung berlari mengejar lelaki itu. Dan dari jauh, seketika terdengar derak-derak gerbong kereta merangkak pelan. Rel kereta mulai bergetar. Kereta barang itu merangkak hingga bersampai pada jauhnya Keke berlari. Keke menoleh pada kereta barang. Ia berusaha menggapai tepian kereta dan menaiki kereta itu. Sedangkan warga berhasil menangkap bapaknya. Lelaki itu babak belur dihajar oleh warga.
Kini kereta barang itu telah membawa Keke pergi jauh hingga dua belas tahun berlalu. Aku melihat Keke menangis seraya memeluk boneka kayu, erat sekali. Sementara kertas-kertas beterbaran di dekat bapak Keke yang saat itu sedang pingsan. Kertas-kertas itu penuh dengan tulisan tangan emak. Sontak aku terkejut ketika kuketahui bahwa kertas itu tertulis cerita fiksi karya emak. Ternyata pencuri cerita fiksi itu adalah bapak Keke.
Tatapanku kosong menyaksikan senja yang mulai remang. Aku sendiri. Perlahan, bingkai air mataku jatuh di atas cerita fiksi emak.
*
EPILOG
Di bawah pohon beringin yang tak sejuk itu kini jadi tempat mangkal para pedagang kaki lima. Pun di sekitarnya banyak berjejer pohon yang tumbuh subur.
Lalu datang seorang perempuan berdiri di sampingku, dengan senyum ramahnya. “Kamu pasti bukan penduduk sini? Aku tak pernah melihatmu.”
Aku menatap wajahnya. Juga pada buku yang tengah dibawanya. Aku membaca judul besar yang terpampang di buku itu. Astaga! Judul itu. Aku terkejut membacanya.
“Boneka kayu si Emak. Apa kamu yang menulisnya?” tanyaku buru-buru. Perempuan itu menganggukkan kepala. “Jangan-jangan kamu... Keke!”
“Bagaimana kamu bisa tahu namaku?”
“Lupakah kamu padaku, Ke? Aku Safana.”
Ia terkejut. “Ya Tuhan, kamu Safana. Teman masa kecilku.”
Aku menganggukkan kepala. Dan kami saling berpelukan setelah lama tak berjumpa. Tak kusangka, Keke telah tumbuh menjadi sosok remaja yang cantik dan jauh lebih periang dari masa kecilnya.
“Kemana saja kamu? Aku menantimu sepanjang hari di tempat ini. Aku sendirian. Tapi setelah satu minggu berlalu, Pamanku datang dan membawaku pergi bersamanya ke kota. Di sana ia menyekolahkanku hingga perguruan tinggi. Seandainya saja Emak masih hidup, tentu Emak akan senang karena melihat masa depanku yang cerah. Aku jadi seorang guru, pegawai negeri sipil. Telah kuceritakan cerita-cerita fiksi karya Emak pada murid-muridku.”
“Kereta barang itu telah membawaku ke tempat yang jauh sekali. Kota rantau yang asing di mata. Aku kelaparan dan kedinginan. Untung ada boneka kayu Emak. Di kota rantau aku mencari uang dengan memainkan sandiwara boneka. Banyak yang menyukai sandiwaraku. Di kota rantau pula aku memulai hidupku dengan menulis novel ini. Akhirnya, tujuh tahun kemudian, setelah punya cukup uang, aku kembali lagi ke kampung ini. Dari royalty yang kudapat, aku membangun kampung ini bersama anak-anak didik Emak hingga kampung ini bisa tumbuh lebih baik seperti yang diinginkan Emak. Aku sudah mendengar dari warga, Emak meninggal di peristiwa terbakarnya warung kopi. Aku minta maaf. Harusnya aku menyelamatkan Emakmu.”
“Kamu tidak salah, Ke.”
Aku memandang sekelilingku. Dari jalanan bersimpang yang dulunya tanah kosong yang gersang kini menjelma bentangan sawah luas. Jalan ini tak ada nama, warga menyebut kampung ini: Kampung Rubiyah. Sontak aku terkejut membaca nama kampung ini. Astaga, itu nama emak!
Perlahan air mataku mulai jatuh. Aku takkan pernah menghapus huruf-huruf yang mengisahkan namamu, emak. Bagiku, emak adalah sebutir matahari di hati adalah sehujan inspirasi di tangan adalah berlapis pelangi di mata.
Mak, engkaulah inspirasi kami, Emakku yang kurindu.

---------------------------------------------------
NB: Cerpen "Pencuri Cerita Fiksi dan Boneka Kayu Si Emak" Menjadi Finalis 10 Besar Sayembara Menulis Cerpen Se-Jawa Bali 2012

Anak Lelaki yang Tinggal di Lorong


Kafe ini sepi menjelang senja. Aku menatap ke luar jendela dari tempatku duduk sendiri seraya menyeruput secangkir kopi hangat. Berbatang-batang rokok tak lepas dari hisapanku. Lengkingan hisapan kuat sebagai pelepas jemu.
Aku mengedar pandang berkeliling. Deretan rumah tua berjejer di sepanjang jalan. Ada pula galeri lukisan, gedung bioskop, dan tempat-tempat perbelanjaan. Truk kemudian memelan melewati jalanan dengan simpang yang semrawut. Suara orang ramai seperti berebut masuk kereta. Dan teriakan para pengemis, penjual asongan, serta beberapa waria pecah di pinggir jalan. Mereka yang berusaha melarikan diri saling berkejaran dengan oknum satpol PP.
Ketika akhirnya kerumunan orang yang melihat aksi itu kemudian berlalu pergi, truk lepas dari perangkap persimpangan. Lalu pandanganku beralih pada seorang anak lelaki yang berdiri di mulut lorong. Sendiri. Wajahnya tampak lebih kumal dari pakaian yang dikenakannya. Anak itu tinggal di lorong. Sebuah lorong yang diapit oleh dua gedung yang menjulang tinggi. Jika malam tiba, lorong itu tampak gelap, kecuali rumah kayu di ujung lorong yang hanya ada satu lampu penerang. Lampu warna kuning pudar.
Gelap.
Konon, kata warga, anak lelaki itu adalah jelmaan Dewi Bulan yang turun dari singgasana langit. Ya, anak itu terlahir saat bulan purnama menjelang. Entah benar atau tidak. Mitos itu selalu menyertai jika orang-orang membicarakannya. Perihal anak lelaki itu, di malam bulan purnama, ia menjerit dalam tangisan kencang. Suara tangisan yang terdengar dari arah sungai langsung membuat warga diterpa rasa penasaran. Lalu, warga berbondong-bondong ke arah sungai di larut malam. Pada tepian sungai itulah, warga menemukan seorang bayi lelaki. Wajahnya terpancar oleh cahaya purnama. Dari situlah mitos itu mulai berkembang. Orang-orang memanggil anak lelaki itu, Purnama.
Saat itu, tak ada warga yang mau merawat Purnama kecil, kecuali seorang lelaki pengangguran yang kemudian merawat Purnama. Dan sekarang, Purnama telah tumbuh menjadi anak yang mampu berlari lincah, anak lelaki berumur tujuh tahun. Ia tak memiliki teman satupun, ia selalu berceloteh dengan dirinya sendiri. Bahkan di antara tawa anak-anak sebayanya, ia sering tertawa sendiri.
Anak itu terus menarik perhatianku. Aku menghancurkan rokok yang tinggal seujung kuku di asbak tanah liat, kemudian pergi meninggalkan kafe.

***

“Apa yang sedang kau lakukan di sini, Nak?” tanyaku, berjongkok di hadapan Purnama.
Ia memandangku, tak menjawab sekilas yang kutanyakan, lalu berpaling pergi dariku. Berlari. Ia tampak ketakutan saat bertemu denganku. Aku pun mengejarnya. Melewati lorong sempit yang hanya dilalui sepeda motor.
Di penghujung lorong, kutemui sebuah rumah kayu. Ada suara gemerisik dari rumah itu, bunyinya seperti gembok yang terkunci. Kemudian kurogoh saku celanaku dan mendapati dua batang cokelat. Ketika aku berjalan beberapa langkah ke rumah itu, tak ada lagi suara gemerisik. Yang kudengar hanya suara angin senja.
Dingin.
“Aku tahu kalau kau ada di dalam. Bukan maksudku untuk menakut-nakutimu,” kataku, lalu mengetuk pelan pintu yang terbuat dari bambu. “Mmmh, aku punya dua cokelat manis. Kalau kau mau, aku akan memberikannya untukmu.” Tak ada jawaban yang kudengar. “Oke, aku akan pergi.”
Belum aku membalikkan badan, tiba-tiba kudengar suara pintu yang berderak. Dari pintu yang terbuka sebagian, kulihat Purnama bersembunyi di balik pintu. Lalu, aku mendekatinya. Kucoba untuk mengulurkan dua cokelat yang kubawa kepadanya. Awalnya ia agak ragu menerimanya. Matanya nyaris tak lepas memandangku. Tapi akhirnya, ia keluar dari balik pintu dan mengambil dua cokelat itu. Dengan lahap, ia memakannya.
“Apa kau sendiri?” aku mengawali pembicaraan seraya duduk di atas dipan.
Purnama menganggukkan kepala, lalu memandangku. “Aku menunggu Bapak.”
“Di mana Bapakmu?”
“Kerja. Bapak akan pulang ketika larut malam.”
“Memangnya Bapakmu kerja di mana? Kenapa sampai larut malam?”
“Di jalanan. Saat senja tiba, Bapak akan menjelma menjadi perempuan. Selalu berdandan pakai lipstik, anting-anting, dan apapun itu. Bapak tak ada bedanya seperti perempuan. Aku takut sekali. Aku takut sendiri. Aku takut Bapak dipukul oleh pasukan berseragam hijau yang jahat tadi. Dan aku takut Bapak dipenjara. Padahal Bapak hanya mengamen untuk mencari uang, untuk makan kami sehari-hari, hanya saja penampilan Bapak yang beda.”
“Maksudmu?”
“Bapakku adalah seorang waria.”
Aku tertegun. Ketika akhirnya lampu penerang di ketinggian gedung menyala, aku larut pada suatu kisah yang membawaku menerobos masa lalu. Dari waktu yang berlalu, kampungku gempar lantaran seorang wanita tiba-tiba hamil tanpa suami. Aib itu mulai terkuak setelah diketahui perut wanita itu semakin buncit.
Cakap warga mulai merebah bagai layar terkembang. Hingga pada suatu malam, saat kandungan wanita itu menginjak sembilan bulan, warga berbondong-bondong ke rumah wanita itu. Celaka telah datang padanya.
“Najis. Usir wanita hina itu,” sorak warga.
“Kami tidak ingin kampung ini terkena celaka,” sahut warga lain yang kemudian mendorong tubuh wanita itu hingga tersungkur di atas tanah.
Aku membencinya sejak lama, tapi di sisi lain, aku menyayanginya. Aku ingat, aku pernah meludahi mukanya. Ia menangis menatapku. Kupandang kembali matanya. Lalu, ia pergi.
“Siapa wanita itu?” tanya Purnama.
“Ia adalah kakak kandungku.”
Aku telah menyaksikan air mata telaga kakakku. Dari kejauhan, aku tahu bahwa ia takkan kembali lagi. Sejak hari itu, aku terakhir kali memandang matanya. Ia benar-benar tak pernah kembali.
“Ah, wanita... di masa remaja tumbuh sebagai pembawa aib dan celaka bagi keluarga,” pikirku.
“Tapi itu tidak adil. Wanita terlahir bukanlah sebagai pembawa aib dan celaka. Kau salah. Biarpun bagaimana, yang melahirkan kita adalah wanita. Ibu.”
“Oke, kau benar. Apalagi sekarang aku sudah bertunangan dengan wanita cantik yang sangat kucintai. Dan suatu saat, ia pun akan menjadi seorang ibu, lalu melahirkan kehidupan baru. Sang kecil yang kelak juga akan tumbuh sepertimu,” kupandang cincin yang melingkar di jari manisku. Cincin pertunangan. “Pemikiranmu bagus. Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?”
“Bapak yang mengajariku. Bapak selalu menceritakanku tentang arti kehidupan. Tak mudah menjadi lelaki. Begitu pun menjadi perempuan. Namun, lebih tak mudah menjadi lelaki yang menyerupai perempuan seperti Bapak—yang selalu dihina.”
Karena, mereka ingin sepenuhnya memiliki kebebasan atas hak mereka, seperti camar yang terbang di langit senja...

***

Malam.
Keesokan harinya aku kembali ke rumah Purnama. Di sana kudapati Purnama terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Wajahnya tampak pucat. Saat kudekati dan kuletakkan tanganku di dahinya, panas sekali. Tubuhnya menggigil kedinginan. Lantas, aku sangat khawatir dengan keadaannya.
“Ayo, aku akan membawamu ke rumah sakit!”
“Aku tidak mau. Aku ingin menunggu Bapak.”
Baiklah. Aku bergegas menelusuri jalan menuju apotek dengan tergesa-gesa. Melewati jalanan kota yang gelap tanpa lampu penerangan. Berjalan, berjalan, dan berjalan cepat. Langkah kakiku menyerak debu-debu yang berhamburan tak beraturan. Sesekali, kendaraan lewat dengan mesin menggema, lalu lenyap di kelokan. Aku tak tahu seberapa kusut diriku. Kemejaku sangat berantakan. Kali ini aku hanya terbayang oleh Purnama yang sedang sakit. Sendiri di rumahnya. Belum sampai di apotek, di jalanan yang gelap, ada seseorang yang menabrakku dari belakang.
“Maaf,” hanya itu yang dikatakannya.
Tapi aku mulai merasa kalau wanita berbaju merah ketat yang menabrakku itu seperti mengambil sesuatu dari saku celanaku, kurogoh. Ah sial, dompetku. Lalu aku berlari mengejarnya, tetapi ia sama sekali tak menoleh sekilas ke belakang.
“Hei—kau mencuri dompetku,” teriakku.
Saat kuraih dan kutarik tangan kirinya, ia dengan mudah melepaskan diri, tapi gelang yang dikenakannya lepas dan jatuh. Aku segera memungut gelang itu. Sesaat aku tertegun mengamati gelang yang tak asing bagiku. Dan sialnya, wanita itu lolos dari genggaman eratku. Mestinya ia tahu bahwa aku sangat membutuhkan uang di dalam dompet itu untuk menyelamatkan nyawa anak kecil yang malang.
Belum jauh wanita itu pergi, aku berusaha untuk mengejarnya. Tapi seketika, melintas kendaraan operasional satpol PP yang kemudian menggiring wanita itu naik ke kendaraan operasional bersama mereka.
Di kantor satpol PP... Aku datang untuk mengambil dompetku. Dompet itu bukan hanya berisi uang, tapi juga surat-surat berharga dan foto tunanganku.
Begitu melewati ruangan petugas, pandanganku mendarat pada seorang wanita yang meronta-ronta di hadapan oknum satpol PP. Wanita itu memohon agar dilepaskan. Sejenak aku mengamati wanita yang sedang memunggungiku. Ah, tak salah lagi, wanita itu pasti yang mencuri dompetku. Wanita berambut panjang dan berbaju merah ketat dengan rok pendek. Aku bergegas masuk ke ruangan itu.
“Ada apa?” tanya salah seorang oknum satpol PP.
“Pak, dompet saya yang berisi uang dan surat-surat berharga telah dicuri. dan wanita ini yang mencuri dompet saya,” kataku dengan suara keras.
Kemudian wanita itu berbalik badan ke arahku. Matanya menangkapku, tapi dengan segera aku berpaling ke arahnya. Ketika kami saling memandang, aku sangat terkejut melihat wanita yang kini duduk memandangku. Pun dirinya.
“Septi—”
“Apa kau mengenalnya?” tanya oknum satpol PP yang duduk di hadapanku.
“Ya, aku sangat mengenalnya. Tak kusangka, wanita yang mencuri dompetku adalah tunanganku sendiri. Kenapa kau lakukan itu, Septi?”
Mendengar ucapanku, oknum-oknum satpol PP yang ada di ruangan langsung tertawa. “Rupanya kau telah dibodohi wanita jadi-jadian ini.”
“Apa maksud Bapak?”
“Dia ini adalah waria. Itu berarti kau akan menikahi seorang waria. Namanya bukan Septi, tapi Sapto.”
“Oke, mungkin kalau pagi namanya adalah Sapto, tapi kalau malam ia akan menjelma menjadi Septi yang liar di jalanan kota,” sahut oknum satpol PP yang lain, lalu tertawa.
Mendadak tubuhku langsung ambruk, bertopang pada kedua lutut. Aku benar-benar terkejut mendengarnya. Pikiranku mulai berkecamuk. Setelah menjalin hubungan pacaran dalam waktu yang lama, hingga akhirnya bertunangan dan akan menikah, tapi semuanya penuh dengan kebohongan. Palsu. Aku merasa malu pada diriku sendiri, terlebih keluarga dan orang-orang di sekitarku. Tunanganku, seorang waria. Aku tak tahu, harus marah ataukah sedih. Aku sudah terlanjur mencintainya setengah mati. Air mataku mulai mengalir, tapi tertahan di pelupuk mata.
“Kenapa kau tega membohongi aku?” bentakku, marah. “Najis.”
“Maafkan aku, Mas. Aku ingin mengatakan yang sebenarnya kalau aku adalah seorang waria, tapi aku takut. Aku takut kau akan meninggalkanku. Karena aku sangat mencintaimu. Tentang dompet yang kucuri, aku terpaksa melakukannya. Karena aku benar-benar membutuhkan uang untuk biaya berobat anakku. Mas, tolong aku! Bantu aku bebas dari tempat ini. Anakku sedang sakit, Mas. Tolong...!” pintanya, meneteskan air mata.
“Pak, lepaskan saja dia! Saya yang menjaminnya.”

***

Dari rumah Purnama, kudengar suara tangisan. Kupikir bapak Purnama sudah pulang dan membawakan obat untuk Purnama. Tak lama kemudian, tangisan itu mulai mengeras, dan jeritan semakin keras, lalu berteriak, “Purnama! Purnama!” Beriringan dengan itu, kudengar suara seperti kursi yang dibanting. Lalu, diam-diam aku mengintip dari balik pintu yang setengah terbuka. Yang kulihat bukanlah seperti bapak Purnama, tapi seorang wanita. Aku menatap punggungnya.
Dan, oh, dia...
Aku kembali bertemu dengan wanita itu. Tunanganku.
“Septi—”
Seketika, ia menengok ke belakang. Kami sama-sama saling terkejut. Benar, ia adalah Septi, ah bukan, tapi Sapto. Ia tergeragap dan bangkit. Berusaha untuk menjauh dariku, tapi aku semakin berjalan mendekat yang seolah mengepungnya. Pipinya basah oleh gengangan air mata. Jika aku melihatnya lagi, ingin rasanya kutampar mulut wanita jadi-jadian itu dengan seonggok kayu. Mulut pendusta yang telah mencoreng mukaku dan membuatku sangat malu.
Pada waktu orang bersenang-senang membicarakan pernikahan, aku tidak lagi. Maka rasa-rasanya impianku telah hancur. Padahal, seminggu lagi adalah waktu ketika aku akan mengucapkan ijab kabul di depan penghulu. Bahkan semua telah dipersiapkan dengan matang. Tinggal menunggu waktu, tapi kali ini aku hanya bisa melamunkan nasib yang menimpaku.
“Kenapa kau mengikutiku?”
“Aku tidak mengikutimu. Dan tidak akan pernah mengikutimu lagi setelah ini. aku hanya mau memberikan obat untuk Purnama. Sungguh, aku muak melihat wajah topengmu. Sekarang aku menyadari bahwa masa lalu kita penuh dengan kenangan pahit. Kau tahu, kenangan pahit di antara kita akan melekat lebih kuat dalam pikiranku ketimbang kengan manis yang hanya secuil.”
“Kumohon jangan permasalahkan ini lagi, Mas. Puaskah kau melihat keadaan  Purnama sekarang. Hah—” teriaknya dengan jeritan keras.
Yang paling mengejutkan, ketika pandanganku beralih ke arah Purnama, aku seperti melihat Purnama tidur tanpa napas. Tubuhnya diam tak bergerak sekilas. Kaku. Wajahnya sangat pucat dan hidungnya mengalir sedikit darah. Kemudian aku berjalan mendekati Purnama.
“Apa yang telah terjadi dengan Purnama?”
“Air matanya mulai merambah ke pelupuk pipi. Basah, semua. “Nadinya telah berhenti. Purnama meninggal, Mas.”
Ketika aku menanyakan kepadanya apakah Purnama adalah anaknya, ia menjawab iya. Anak kandungnya. Tapi aku sama sekali tak menduga bahwa seorang waria pun bisa mempunyai anak kandung. Selama kami berpacaran, bertahun-tahun, ia tak pernah menceritakan padaku bahwa ia sudah mempunyai seorang anak. Anak kandung. Apalagi mengajakku ke rumahnya, tak pernah sekalipun.
“Dulu, aku pernah menghamili seorang wanita desa. Saat itu aku benar-benar khilaf, aku telah dijebak. Teman-temanku menegukku dengan berbotol-botol bir dan membuatku mabuk berat. Lalu aku dibawa ke sebuah rumah kosong. Di rumah itu, aku melihat seorang wanita yang sedang pingsan. Dan dari situlah, aku memperkosanya, hingga kuketahui ia telah mengandung anakku. Kemudian saat aku kabur dari rumah itu, aku terjatuh ke jurang dan ditolong oleh sekawanan waria yang sekarang menjadi temanku. Bukan berarti aku melarikan diri dari tanggung jawab, aku bersembunyi dan tak pernah menampakkan diri di hadapan wanita itu, tapi aku selalu memperhatikan wanita itu dari kejauhan. Apalagi dengar-dengar wanita itu sedang dipasung oleh warga di kandang bekas kambing.”
“Tunggu. Tadi kau bilang wanita itu dipasung di kandang bekas kambing.” Ia menganggukkan kepala. “Siapa nama wanita itu?”
“Yang kudengar dari salah seorang warga, nama wanita itu adalah Silvana. Kata orang, Silvana adalah wanita penyuka sesama jenis.”
Astaga. Sontak aku terkejut. Maksudnya, mendengar ucapan yang mengatakan nama Silvana.
“Brengsek, kau. Biadap—” kudorong tubuh Sapto dengan hentakan keras hingga ia terjatuh. “Kau tahu, siapa Silvana sebenarnya. Dia adalah kakak kandungku. Teganya kau menodainya. Sekarang di mana dia berada?”
“Aku tidak tahu. Kemungkinan ia meninggal bunuh diri, tenggelam di sungai setelah membuang Purnama ke sungai.”
Kini aku mulai menangis. Tak kusangka, Purnama adalah anak dari kakak perempuanku. Air mataku telah menjelma tirai-tirai hitam dalam deting kematian. Seperti hujan yang menggaris malam, kematian juga telah menggaris perpisahan. Aku memeluk tubuh Purnama. Erat sekali. Lama sekali.
.....
O, ini seperti kutukan bagiku. Sial.

---------------------------------------------------
NB: Cerpen "Anak Lelaki yang Tinggal di Lorong" Menjadi Nominator Cerpen Competition oleh Sekolah Tinggi Islam Bani Fatah (STIBAFA) Tambakberas, Jombang 2012

Wednesday, October 17, 2012

Perempuan Penjual Kerudung

Ia, seorang perempuan yang tegar. Hebat. Yakni perempuan penjual kerudung. Hidupnya hanya bersama seorang anak, tiada suami. Ia tak hanya menjadi seorang ibu, namun juga seorang ayah. Ya, karena ia yang menjadi tulang punggung keluarga, sekedar mencari berlembar rupiah—hanya tuk sesuap nasi, bahkan sekolah anaknya yang masih berseragam merah putih.
Di sudut pasar itu, berkerumun banyak orang yang menanti di layani lebih dulu. Saking jujur dan ramahnya dalam berjualan—hingga membuat pelanggan segan pada dirinya. Setiap ada pelanggan, ia selalu bertebar sebuah senyum semanis legit. Ibaratnya, seperti sekuntum bunga mawar yang bermekaran. Nun indah dan elok jikalau di pandang dengan mata kasat. Oleh sebab itu, dagangannya paling laris di antara yang lain. Akan tetapi, itu justru menjadi beban penjual kerudung yang lain. Sebut saja, Jeng Elmi.
“Dagangannya makin laris aja, Jeng!”
Alhamdulillah... Kalo rezeki juga nggak bakalan kemana. Sudah ada yang mengatur oleh Sang Kuasa,” ucapnya pada pelanggan tetapnya seraya tersenyum.
“Hah! Sombong bener,” gumam Jeng Elmi seraya memasang wajah sinis.
Kala menjelang Ashar, ia beranjak ke mushala. Sebuah mushala kecil yang bersebelahan dengan pasar. Ia lebih memilih meninggalkan dagangannya ketimbang sembahyang. Sembahyang ialah kewajiban duniawi, bukanlah berdagang. Kau tahu itu, pastinya. Tiada rasa takut jikalau dagangannya di curi. Ya, ada kawan seperdagangannya yang selalu menjaga serta. Seandainya ini adalah negeri Arab, kalau mencuri pastinya tangan bakalan di potong. Tapi bukan, ini adalah negeri Indonesia, kalau pun mencuri pastinya akan di gebuk oleh massa.
Assalamualaikum...” ucapnya seraya melangkahkan kaki kanan pada lantai mushala.
Ia menoleh ke samping kanan kiri seperti seekor kadal mencari mangsa. Lantas, tiada seorang pun dalam mushala. Sepi. Tak pun seruan azan, panggilan tuk sembahyang. Padahal ini sudah jam tiga lebih. Tak biasanya, pikirnya. Mungkin para lelaki yang biasa azan sedang sibuk dengan urusan mereka.
Kemudian datang seorang lelaki separuh baya yang berjalan di belakangnya. Ia pun menoleh ke belakang seraya tersenyum pada lelaki itu.
“Pak Iman kemana? Kok tumben tak terdengar azan. Biasanya kan Pak Iman tak pernah telat mengumandangkan azan,” tanyaku.
“Iya, Pak Iman takkan bisa lagi mengumandangkan azan di mushala ini.”
“Kenapa?”
“Berita duka. Pak Iman tlah pulang ke Rahmatullah.”
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un…” ia terkejut. “Padahal tadi pagi Pak Iman sehat-sehat saja. Bahkan kami sempat saling sapa.”
Pak Iman adalah seorang yang baik. Dalam kehidupannya, beliau selalu berdzikir pada-Nya. Sungguh khusyuk. Ya, belum kuberitahu padamu. Bahwa adik Pak Iman adalah suaminya, perempuan penjual kerudung. Namun, mereka memiliki sifat yang sangat berbeda. Suami perempuan penjual kerudung itu, suka berfoya-foya dalam dunia maksiat. Ia hanya bisa menangis kala suaminya bertindak kasar padanya, memukul. Toh, apa yang bisa ia perbuat. Lagipula, sang istri haruslah menaati apa kata suami. Begitulah yang diterangkan menurut ajaran Islam. Bahkan saat itu suaminya meninggal dalam keadaan mabuk berat—kala menjelang subuh.
Usai sembahyang, ia mengambil mikrofon, di letakkan di depan bibirnya. Napasnya terasa berdesah pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya lewat celah mulut. Ya, ia sangatlah menyukai membaca ayat-ayat al-Qur’an, meskin hanya beberapa ayat pun tak apa. Asal dalam sehari, ia sempatkan mengaji. Hobi, katanya.
Subhanallah... indah nian suara perempuan yang sedang mengaji ini,” seru salah seorang pembeli di pasar yang kala itu tengah berbelanja.
“Ya, suaranya memang sangat merdu. Ia memang seperti itu, rajin mengaji di mushala. Itu adalah suara seorang perempuan penjual kerudung di ujung sana,” tunjuk sang penjual sayur-mayur.
 ***
Esok pagi, ia hendak mengantar anaknya beranjak sekolah. Dengan sepeda tuanya, ia mengayuh hingga berlumur raupan keringat. Tiada lelah yang ia rasakan. Asal, anak satu-satunya itu bisa terus sekolah hingga menginjak ke pendidikan yang lebih tinggi.
Ia tak ingin anaknya berpendidikan rendah. Tak seperti dirinya, yang hanya lulusan SD. Seandainya bapaknya tak melarang, ia pasti bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Padahal ibundanya tak melarang, malah ibundanya ingin ia bisa sekolah di kawasan pondok pesantren. Mendalami ilmu agama. Syukur-syukur bisa jadi seorang ustadzah. Atau malah seorang Nyai yang selalu berceramah agama di hadapan umum.
Ironi sekali, kawan. Ya, bapaknya selalu berucap bahwa: anak perempuan itu tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Toh, pada masanya ia akan menjadi seorang istri yang pekerjaan ngurusi dapur dan suami. Sungguh, pemikiran yang pendek. Toh, perempuan dan laki-laki sama saja. Yakni sama-sama memiliki hak untuk mengejar ilmu setinggi mungkin, bersekolah. Hingga akhirnya, ia di jodohkan dengan seorang lelaki yang kini menjadi suaminya. Ralat, almarhum suaminya. Ia hanya menurut apa keinginan bapaknya. Karena ia tak mau menjadi sang pendurhaka. Meski sesungguhnya, ia tak pernah mencintai suaminya itu.
Pagi ini amatlah indah. Cerah tiada berawan. Tiada pula sang surya yang menyilaukan. Hanya nampak sisa kabut yang mengepulkan uapnya, tetesan embun yang bernaung di atas dedaunan, dan kicauan camar yang menyongsong datangnya pagi.
“Sekolah yang rajin, Nak. Janganlah malas mencari ilmu! Dan jangan membuat ibumu ini kecewa padamu.”
“Pasti, ibu. Karena aku ingin jadi seorang pilot. Aku ingin membawa ibu naik haji ke tanah suci Makkah. Kata ibu guru, orang yang tak punya cita-cita adalah orang yang tak punya motivasi belajar.”
Seketika ia melihat seorang pengemis yang tengah menangis seraya memegang perutnya di pinggir jalan. Ia pun berhenti mengayuh sepeda. Di hampiri pengemis itu seraya menggandeng tangan anaknya.
“Ada apa, Bu? Kok ibu menangis.”
“Lapar. Sudah tiga hari saya belum makan,” ucap pengemis itu tersedu-sedu dalam isak tangis yang membasahi pipi.
Kemudian ia menoleh pada anaknya. Ia meminta agar bekal makan anaknya di berikan pada pengemis itu, orang yang lebih membutuhkan ketimbang dirinya. Anaknya turut mengiyakan. Ia bisa mengerti. Karena ia selalu mengajarkan anaknya tuk saling berbagi pada sesama manusia. Terbukti, anaknya kini tlah menjadi seorang anak yang sholeh.
“Nanti ibu antar bekal makan siang lagi ke sekolahmu, Nak.”
Di sisi lain, tiba-tiba ia melihat seorang anak yang seusia dengan anaknya tengah menyeberang jalan. Seorang anak lelaki yang pula berseragam merah putih. Sungguh, betapa terkejut ia melihat ada sebuah truk dari arah kanan jalan—tengah melaju dengan kecepatan tinggi. Ia bingung. Semakin panik. Tak tahu lagi mesti berbuat apa. Lantas, ia segera berlari ke tengah jalan tuk menyelamatkan nyawa seorang anak yang tak pernah di kenalnya.
Braaakkkkk. Truk itu menabrak tubuhnya hingga terpelanting jauh ke tepi. Tapi nyawa anak lelaki itu selamat. Karena dirinya tlah mendorong tubuh anak itu tepi. Dan dalam keadaan lain, malah dirinya yang tak bisa menyelamatkan diri, tak mampu menghindar dari maut.
“Ibuuuuu...” jerit anaknya dengan histeris.
Luka bersimpuh darah tlah melekat pada dirinya. Semua orang terpana, berlarian pada sosok perempuan penjual kerudung yang tengah tergeletak kaku. Kini, sebuah nyawa orang lain terganti dengan nyawanya sendiri.
***
Kala menjelang senja, azan maghrib kan segera berkumandang, bedug bertalu. Tiada lagi sang surya yang menyengat kulit. Sang surya tlah menenggelamkan diri pada ufuk barat. Dan kan kau temui kembali kala sang surya datang dari ufuk timur, tepatnya esok pagi. Kini, yang ada tinggal siluet remang yang hinggap pada pelataran langit. Meninggalkan bau kenangan pahit yang amat membekas.
Di sebuah mushala itu, terdengar suara tangis yang mengerang keras. Alangkah terkejutnya warga yang berada di area mushala. Tangis siapa ini, begitulah yang sekian terucap dari mulut warga. Mereka berduel mempeributkan suara tangis itu.
“Kemana pula orang tua anak itu? Masak di biarkan nangis terus, nggak berhenti-henti. Padahal sudah sejak sore tadi.”
“Sepertinya ini terdengar dari arah mushala!”
Salah seorang warga menajamkan pendengarannya. “Ya, sepertinya. Bagaimana kalau kita pergi ke mushala saja. Sekedar untuk memastikan. Jangan-jangan terjadi apa-apa! Toh, kita kan nggak tahu.”
Tangis itu tlah membuat geger. Mengusik ketenangan. Seolah-olah seperti menyayat daun telinga menjadi berkeping-keping. Seperti pula sebuah batu yang teremuk hingga hancur menjadi sebilah pasir. Berhamburan warga beranjak ke mushala, sebuah mushala yang bersebelahan dengan pasar. Mereka hanya tak ingin di kelabuhi oleh tanda tanya—yang semenjak tadi menyulutkan rasa penasaran. Suara tangis yang tiada henti.
“Ada apa, Nak? Kok nangis,” tanya seorang warga. Bernama Jeng Elmi.
“Ibu... aku mau ibu,” ucap anak itu dengan berlumur genangan air mata yang membasahi raut wajahnya.
“Ibu kamu kemana? Ayo, bapak antarin pulang!” bujuk Pak Abing seraya menghapus tetesan air mata anak itu.
“Berarti kau akan membunuhku?”
Pak Abing terkejut, “apa maksudmu, Nak?”
“Ibuku tlah pergi. Ia tlah pergi ke surga, meninggalkanku sendiri,” teriak anak itu.
Bukan hanya Pak Abing yang terkejut. Tapi juga seluruh warga yang berkerumun di dalam mushala.
“Ibu, itu kan anak dari seorang ibu yang menolongku tadi pagi. Yang tadi siang aku ceritakan pada ibu. Aku juga belum bilang kalo ibunya tlah meninggal, gara-gara menyelamatkan nyawaku. Kasihan anak itu, Bu. Ia tak punya siapa-siapa lagi.”
Kemudian Jeng Elmi menghampiri anak itu lebih dekat seraya menggandeng anaknya. “Ini anakku, Nak. Seorang yang ibu kamu tolong tadi pagi.” Anak yang masih terisak dalam tangis itu mendongak, menoleh ke arah lelaki seusianya. Ia masih ingat dengannya. “...kalo boleh ibu tahu, siapa ibumu?” lanjutnya.
“Ibu Laelasari...”
Sontak Jeng Elmi terkejut. Laelasari, adalah orang yang sangatlah ia benci, pesaingnya. Dulu, Laelasari adalah sahabatnya. Tapi semenjak dirinya dan Laelasari berdagang sama, ia sangatlah keji padanya. Layaknya seorang musuh. Ya, hanya karena dagangan Laelasari lebih laris ketimbang dagangannya. Selain itu, Laelasari juga tlah merebut orang yang ia cintai—yang telah menjadi suami Laelasari. Tapi kini, nyawa anaknya tlah di tukar dengan nyawa Laelasari. Begitu halnya dengan, kebenciannya tlah di tukar dengan pengorbanan Laelasari. Adalah perempuan penjual kerudung. (*)
---------------------------------------------------
NB: Cerpen "Perempuan Penjual Kerudung" Menjadi Juara 1 Lomba Cerpen Girls Day STAN Tingkat Nasional 2011

Pelabuhan Taman Surga

Kubisikkan anganku dalam hamparan senandung asma Allah. Sesekali kuredam diriku ini dari noda nista yang menghampiriku di masa lalu. Karena aku tak mau larut dalam nafsu yang kian memburu. Seperti kisah sang pendosa, tapi itu bukanlah aku. Sungguh, apa yang tersirat dari dalam diriku kan kubenah menjadi seunggah goresan putih di atas noda hitam. Bismillahirahmanirrahim...
I
Ia mendengar suara khotbah pada area mushola kecil, tepatnya di sebuah desa terpencil yang berada di pelosok kota. Ya, kota ini memang mendapat julukan “kota santri”. Begitulah kiranya yang terlukis dalam googling. Kau tahu, mengapa? Tentu, saking banyaknya pondok pesantren baik di pelosok maupun di wilayah kota.
Khotbah itu terdengar jelas di daun telinganya. Yang berkisah tentang kelahiran Nabi Muhammad saw di muka bumi ini. Beliau adalah cahaya di dalam dada yang memberikan penerangan yang tak pernah padam bagi umat manusia. Nabi Muhammad saw lahir pada tahun gajah. Tepatnya, 12 Rabi’ul Awwalyakni tahun dimana Abrahah al-Asyram berusaha menyerang Makkah dan menghancurkan Ka’bah dengan pasukan gajahnya.
Kemudian ia mencoba mengingat masa lalu, mengorek kalimat yang masih membekas dalam pikirannya: “Aku ingin bertemu Rasulullah saw”.
“Kelak nanti kau pasti bisa bertemu dengan beliau. Asal, janganlah kau tinggalkan ibadah! Ucaplah shalawat Nabi, selalu! Jika kau cinta pada beliau, pasti hidupmu kan bahagia,” tutur ibunda.
“Lantas kenapa ada orang yang begitu cinta dan rindu pada Rasulullah? Padahal orang itu sekalipun tak pernah bertemu dengan beliau.”
“Di dalam hadits pernah di jelaskan bahwa perintah Rasulullah adalah perintah Allah juga datangnya. Beliau rasul kita, apa yang beliau sampaikan wajib kita ikuti. Walaupun kita belum pernah bertemu beliau, kita bisa merasakan apa yang beliau sampaikan, akhlak beliau, dan sebagainya. Dari situlah timbul kecintaan kita.”
Itulah cakap terakhir yang terucap dari lisan di atas pangkuan ibunda tercintanya sebelum meninggalsejak 4 bulan yang lalu. Ya, karena sakit yang menggerogoti tubuh bundanya. Yakni kanker, stadium akhir. Ia sedih kala melihat bundanya dulu kesakitan yang amat sangat. Berurai air mata.
Tiada kelakuan lain yang ia lakukan sepeninggal ibundanya. Yakni, berteguk pada segelas bir berlabel bintang. Kini ia bersandar pada dinding mushola dalam keadaan teler. Tiada lagi kasih sayang, tiada lagi perhatian. Eum, layaknya orang terlantar. Sepi yang ia rasa. Ia hanyalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil yang tak elit bersama saudara kembarnya. Adalah seorang kakak yang selalu bertasbih pada Allah swt.
Akan tetapi, ia justru memiliki watak yang 100% terbalik dari watak kakaknya. Bisa di bilang, ia adalah seorang preman kampung yang selalu bermabuk dengan bergelas-gelas bir hingga pikirannya mampu terbawa ke dalam halusinasi yang begitu nikmatnya. Tak urung pula berjudi di pos ronda selalu ia hampiri. Sekedar mencari kepuasan kala tengah malam menjelang.
“Oh... Inikah taman surga. Dimana Rasulullah? Aku ingin bertemu dengannya. Panggilkan beliau!” teriaknya di depan mushola sambil berjalan lenggak-lenggok. Sepertinya ia sudah sangat mabuk kepayang.
Suaranya terdengar sampai di dalam mushola. Seketika itu, seorang pemuda keluar dari mushola dan di ikuti rombongan jamaah sholat subuh lain yang menengok di depan pintu mushola.
“Astaghfirullah hal adzim...” ucap pemuda itu.
“Taukah kalian semua bahwa bundaku sekarang sedang tidur di atas kasur yang sangat indah di taman surga. Aku akan di ajaknya ke surga. Kalian pasti iri.”
Rombongan jamaah lain saling berbisik dan mendelik gusar. Bahkan para tetangga sekitar rumah kontrakannya selalu bergosip rame-rame tentang kelakuan buruknya yang memang berbeda dengan sifat Adzar yang alim (saudara kembarnya). Tapi Adzar tak pernah bergidik memikirkan apa kata tetangga tentang adiknya itu.
“Bang Idzar mabuk lagi?” tanya seorang muslimah yang berparas cantik. Ia adalah kekasih dari Adzar.
“Aku tidak mabuk, Husnah. Aku sedang menanti pertemuanku dengan Rasulullah. Dan aku juga sedang menanti kedatangan bundaku. Tahukah kau?”
“Istighfar, Dzar. Bundamu tidak ada di sini. Bundamu pasti sangat sedih melihat kau seperti ini. Lebih baik kau pulang sekarang!” bujuk pemuda itu.
“Betul, Bang. Abang pulang saja. Jangan bikin Bang Adzar khawatir lagi!”
“HahAdzar lagi, Adzar lagi. Kenapa dulu kau menolak cintaku? Dan kenapa kau lebih memilih Adzar daripada aku. Padahal kami berwajah sama. Apa bedanya, Husnah?”
Husnah hanya diam dengan bertunduk kepala. Lantas Idzar kemudian melempar botol bir yang di bawanya tepat di depan tulisan: SUCI. Hingga akhirnya membentuk pecahan-pecahan botol yang berserak layaknya butiran emas yang baru di tambang di sungai. Lalu, ia pergi tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
II
Aku bersenandung dalam dekapan lisan yang berucap dua kalimat syahadat: Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa−asyhadu anna muhammadar rasulullah. Dari iringan itu, kudengar ada suara seperti gedoran keras pada pintu depan.
Suara itu semakin lama semakin keras dengan di iringi teriakan yang berdesah lemah. “Cepat buka pintunya!”
Kala subuh menjelang, tak urung pula ada orang yang hendak bertamu. Siapa, pikirku. Jam dinding berdetak tajam seusai melewati pergantian menit terakhir. Bertunjuk jarum panjang lepas di angka 12. Sementara, jarum pendek terbujur kaku di angka 4.
Di bawah lampu remang, aku berjalan menuju pintu dan membukanya. Sungguh, betapa terkejutnya aku melihat Idzar dalam keadaan mabuk. Sudah 2 kali ini dia pulang menjelang subuh dan dalam keadaan mabuk. Padahal, semasa hidup bunda, Idzar tak pernah seperti ini. Sifatnya berubah total sejak dia bergaul dengan anak-anak berandalan yang biasa nongkrong di jembatan yang menghubungkan kampung ini dengan kampung sebelah, tak jauh dari rumah kontrakan ini.
Ya, memang. Idzar lebih di sayang oleh Bunda. Apapun yang Idzar minta pastilah di berikan. Asal Idzar tidak merengek dengan ulahnya itu. Tapi, bukan berarti Idzar anak pecundang atau apa. Dan dalam tanda kutip “anak mama”. Karena aku lebih mandiri dan dewasa ketimbang Idzar. Meski begitu, aku tak pernah merasa sedikit pun di duakan oleh Bunda. Aku bisa mengerti keadaan.
Kemudian aku segera membopong Idzar masuk ke kamar dan mendorong badannya hingga terjatuh di atas kasur.
“Kenapa kau mabuk-mabukan lagi? Minum minuman keras itu di haramkan oleh agama. Apa kau tidak malu dengan ucapan para tetangga yang selalu mengubris tentang ulahmu itu?”
“Diam bodoh. Jangan coba-coba menceramahiku! Atau akan kuhajar kau.”
Ah, biarlah. Lagipula Idzar sudah tak sadarkan diri. Segeralah aku menata letak sajadahku ke arah kiblat, menghadap Sang Kuasa. Aku tengah melaksanakan sholat subuh dengan berucap lantunan ayat Allah dalam hati yang khusyuk. Memuji nama-Nya yang begitu indah.
III
Ia menatap desahan yang berucap dari lidah Adzar. Sesekali, ia meneteskan air mata. Berlinang membasahi pipinya. Rupanya, ia begitu tersentuh dengan kekhusyukan Adzar yang tampak tenang dan damai. Tak seperti dia, yang selalu kalut dalam keheningan nista. Ya, sungguh beruntung, Adzar bisa mendapatkan kekasih yang cantik dan solehah. Yakni Husnah Arsyita.
Air matanya mengalir deras membasahi bantal. Ia makin tersedu-sedu hingga Adzar bisa mendengar isak tangisnya itu. “Jika aku mati, apakah Allah akan mempertemukan aku dengan Rasulullah?” pikirnya.
“Tentu, Idzar. Kalau kau mau bertobat. Allah pasti mengabulkan keinginanmu. Insya Allah...” sahut Adzar ketika pertanyaan Idzar terdengar di telinga.
Ia tersenyum di antara isak tangis. Hingga akhirnya terlelap tidur.
“Kau tahu, kenapa aku ingin bertemu Rasulullah?” tanyanya kala ia berbaring di atas pangkuan kekasihnya. Namanya, Dewinta. Meski tak secantik Husnah. Bahkan tak sesolehah Husnah.
Siang ini sungguh terik menyelimuti kota santri. Matahari berada tepat di atas kepala. Tanpa ada sepeser awan pelindung sedikit pun. Kini, teduhnya berada di bawah pohon yang menjulang tinggi di atas perbukitan. Angin bertiup semilir membawa suatu lambaian masa lalu.
Kenapa pula musim kian tak beraturan seperti ini? Padahal, hari ini tak seharusnya musim kemarau. Tapi, musim penghujan. Lantas kenapa terik matahari menyinari bumi ini. Sungguh, alam yang amat membingungkan. Atau mungkinkah ini petanda bahwa kiamat sudah dekat. Entahlah!
“Aku tak tahu. Apa alasannya?” jawab Dewinta sambil mengusap dahi Idzar.
“Dulu bundaku pernah berkata, jika aku ingin tetap bersama bunda kelak nanti di taman surga, aku harus patuh pada perintah bunda dan juga selalu beribadah pada Allah. Jika aku melakukan itu semua, bunda akan mengajakku bertemu Rasulullah.”
“Beribadah? Bukannya...”
“Ya. Aku tahu,” potongnya. “Aku memang sudah tak pernah lagi sholat. Aku selalu mabuk-mabukan dan berbuat maksiat lainnya. Ntah, setan apa yang merasuk dalam jiwaku ini.”
“Kenapa kau bisa seingin itu bertemu Rasulullah?”
“Entahlah... Dulu bunda sering menceritakan aku dan juga Adzar kala tidur tentang kisah Rasulullah pada waktu beliau lahir hingga akhirnya wafat. Sejak saat itulah aku kagum pada beliau. Tentang penderitaannya, perjuangannya, dan masih banyak lagi. Mm, layaknya seseorang yang kagum pada tokoh idolanya,” ia diam sejenak membayangkan tentang kisah Rasulullah. “Ada kisah yang mengesankan dari beliau. Tentang penderitaan Rasulullah yang di caci maki, di lempari batu hingga luka-luka oleh penduduk kota Tha’if pada saat beliau menyampaikan Risalah.”
“Lalu, lebih cinta mana kau? Aku atau Rasulullah?”
Ia bangkit dari pangkuan Dewinta. Lalu, memandang jauh ke sudut desa di atas bukit. Sudut desa yang begitu sejuk dan indah. Meski langit terik dan cerah tak berawan. “Ntahlah−...”
IV
Kuberjalan di sepanjang jalanan kota yang ramai akan sang pelancong. Senja ini benar-benar menampakkan semburat keremangan yang indah. Di atas jembatan layang kutelusuri area yang melintang ke seberang jalan. Sementara, kedua tanganku sedang memegang sebuah novel islami yang tengah kubaca seraya berjalan.
Seketika, aku di kejutkan oleh kerumunan orang yang sedang berlari ke arahku seraya meneriakkan kata: “copet”. Kutajamkan penglihatanku jauh memandang di ujung sana. Tampaknya, aku mengenal pencopet itu. Siapa ya, pikirku. Selangkah demi selangkah semakin mendekat di hadapanku.
“Idzar...”
Ya, itu memang adikku. Tapi ada apa? Pengejaran itu berlalu melewatiku yang sedang berdiri terpaku melihat adikku di hadang oleh kerumunan masa. Satu orang yang ikut berlari menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Mungkin orang itu bingung. Karena melihat sosok wajahku yang mirip dengan orang yang sedang ia kejar saat ini.
Kemudian aku ikut berlari mengejar Idzar. Dengan harapan aku bisa menyelamatkannya dari hadangan masa. Namun, aku melihat ada kerumunan masa lagi dari arah yang berlawanan. Sehingga, kini posisi Idzar dalam keadaan terhimpit dan tak mampu berlari kemana-mana lagi. Ia tak mampu berkutik.
Di depan mataku, kulihat ia tengah memanjat tepi jembatan layang. “Idzar... Jangan!” teriakku sekeras mungkin sampai ujung tenggorokanku. Tapi, terlambat sudah. Aku tak berhasil mencegahnya, menolongnya. Hanya rasa gelisah yang kurasa. Ia melompat dari atas ketinggian jembatan layang. Sementara, di bawah sana orang-orang hanya terpana. Tiada satupun yang menolongnya. Ya, hanya sebagai suatu pertontonan. Inikah? Orang kota yang begitu kejam.
Dan kini aku melihat adikku terbujur kaku di jalan raya di bawah jembatan. Tubuhnya tertumpah warna darah yang segar. Lantas, akupun segera berlari menuruni jembatan layang dan menghampiri adikku yang terbaring lemah. Kaku.
“Idzar, bertahanlah!” isakku dalam tangis yang tak mampu kubendung.
“Aku sudah tak kuat lagi. Rasanya seperti ingin tidur. Aku ngantuk, Dzar.” ucapnya seraya meneteskan air mata.
“Kumohon jangan kau pejamkan matamu. Ayo, aku akan membawamu ke rumah sakit. Bertahanlah!”
Ia menahan tanganku dan menggelengkan kepalanya pelan. “Aku ingin pergi ke taman surga. Menyusul bunda. Di sana aku bisa bertemu Rasulullah.”
“Y.. ya..” ucapku gagap. “Ya, Idzar.” Air mataku jatuh di atas pipinya yang berlumur darah.
“Idzar...” jerit Dewinta yang tiba-tiba datang. “Idzar tidak mencopet. Bukan dia pelakunya. Dia hanya korban fitnah dari pencopet yang asli. Kalian kejam! Beraninya main keroyokan,” teriaknya pada orang-orang yang ada di sekelilingnya dengan berurai air mata.
“Apakah Allah akan mengampuni dosa-dosaku? Dan berkenankah Allah mempertemukan aku dengan Rasulullah?”
Insya Allah, Dzar.” Aku mengusap darah yang berlumur di dahinya.
“Rinduku padamu, Ya Rasulullah...!” ia tersenyum dalam uraian luka yang melekat pada tubuhnya, sakit sekali. Pedih hingga meremukkan batas tulang.
Lalu, kutuntunnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Hingga akhirnya, Idzar menghembuskan napas terakhir. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...

***

Dengan pakaian serba hitam aku berlutut di samping batu nisan yang terukir nama: Idzar Fathurrahim. Aku mengelus nisan adikku yang kini terbaring di dalam tanah. Di tangan kiri Dewinta terdapat keranjang bunga. Satu taburan bunga ia taburkan di atas makam.
Hari ini kami tlah berbeda alam. Batas antara alam kehidupan dan alam kematian. Mungkinkah Idzar sedang kesepian di liang lahatdalam suatu kegelapan remang yang nyata. Padahal kami lahir bersama, dalam rahim yang sama. Sejak kecil selalu bersama pula, seolah-olah tiada terpisahkan oleh apapun dan kapanpun. Sekali kami berpisah pasti ujung-ujungnya kami akan bertemu lagi. Entah siapa yang mengembalikan kebersamaan itu. Tapi kini, kematian tlah memisahkan kami. Ia yang mendahului, adikku. Aku menyayangimu, selalu.
Maafkan aku bunda. Aku tak mampu menjaga Idzar, ucapku dalam hati.
“Sebelum Idzar meninggal, aku sempat mengantarkannya ke Masjid. Ia bilang, ia ingin sholat, ia ingin bertobat pada Allah. Tapi ketika keluar dari Masjid ada seorang lelaki berlari ke arahnya dengan membawa sebuah tas, lalu di berikan pada Idzar. Ketika Idzar menerimanya, ada gerombolan orang yang berteriak: copet. Saking gugupnya, Idzar malah berlari tanpa menjelaskan terlebih dahulu bahwa bukan ia pencopetnya,” ucap Dewinta. “...keterlaluan. Begitu kejam.”
Berarti Idzar sudah bertobat sebelum akhir menutup mata, menghembuskan nafas terakhir. Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin. Aku senang. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu kembali di alam sana.
Semoga tobatmu di terima Allah. Dan semoga inginmu bertemu Rasulullah bisa tercapai. Beliau kan membimbingmu menuju taman surga. Yaa Allah... kabulkanlah, kehendakilah! Amin, ucapku dalam hati seraya kupejamkan mata.
Kini tiada lagi teriakan Idzar yang terdengar di telingaku, yang terdengar hanyalah kicauan burung yang bernyanyi merdu di atas makam. Seperti hujan yang menggaris senja. Dan seperti perpisahan yang menggaris kebersamaan. Di pemakaman inilah aku berselimut duka.
“Bang, yuk kita pulang!” seseorang sedang memegang bahuku, lembut. Ialah Husnah, kekasihku yang amat kucinta. Dan setelah ini aku akan melamarnya. Tentu, pada akhirnya akan menikah. Bersama hingga hari tua, lebih tepat hingga ajal menjemput di antara kami.
Aku menatap Husnah. Kemudian lekas berdiri meninggalkan makam, berjalan di bawah pohon kamboja putih. (*)
-------------------------------------------
NB: Cerpen "Pelabuhan Taman Surga" Menjadi Nominator Lomba Cerpen Bermakna Tingkat Nasional 2011

Radio & tv online

SKIP 94.3 FM